Postingan

Cerpen: Kubangan

  Kubangan Oleh: Adhelia Putri Chandra P. *** “Tak seorang pun yang ingin jatuh ke dalam sebuah kubangan. Namun, bila kepedihan adalah takdir yang telah Tuhan gariskan, maka siapa yang mampu melawannya?” -Edelweiss Maheswari dalam Cerpen “Kubangan" oleh Adhelia Putri Chandra P. ***             Langit dipeluk gelap saat tetes terakhir dari sebotol arak di tanganku mengalir melewati kerongkongan. Ingatan akan kejadian itu kembali berlari di dalam sesak kepala. Ia bertabrakan dengan hal lain yang kemudian menyakitiku tanpa ampun, membuat setiap inci dari tubuh ini bergemuruh, menyuarakan lara yang bersembunyi di balik daging-daging tak suci yang lahir dalam sebuah kubangan, lalu tumbuh besar dengan minum cairan kegelapan.             Di atas sana, tampak lampu diskotek menjelma bintang−ia berkedip manja pada para manusia jahanam, termasuk aku. Rupanya, suara mu...

Essai: Membidik Eksistensi Bahasa Jawa di Era Gen-Z

Membidik Eksistensi Bahasa Jawa di Era Gen-Z Oleh: Adhelia Putri Chandra P. ***             Bahasa jawa merupakan salah satu bahasa daerah dengan perkembangan yang cukup pesat. Namun, di era milenial ini, bahasa yang kerap digunakan oleh masyarakat yang tinggal di daerah Jawa Timur dan Jawa Tengah ini, mulai terkikis. Terkikisnya bahasa Jawa di era milenial ini tejntunya sangat miris dan perlu perhatian. Bagaimana tidak? Kaum milenial yang seharusnya menjadi ahli waris guna melestarikan serta mempertahankan eksistensi sebuah bahasa─terlihat tidak mengerti bahkan tidak peduli pada perkembangan bahasa tersebut. Hal ini tentu dapat dilihat dari berkurangnya pemakaian bahasa Jawa dalam kehidupan sehari-hari, terutama di kalangan anak-anak dan remaja. Mereka lebih senang menggunakan bahasa Indonesia, bahkan tidak jarang dijumpai kesalahan terjadi ketika mereka menggunakan bahasa Jawa karena tidak seberapa mengerti bahasa Jawa, pa...

Cerpen: Barangkali Legam ialah Mahkota

   Barangkali Legam ialah Mahkota Oleh: Adhelia Putri Chandra P. *** "Barangkali legam di wajah ialah mahkota di kepala, maka pertahankan ia. Sekalipun, mereka yang melihatnya menganggap sebagai sebuah dosa belaka." -Adhelia Putri Chandra P.

Hanya Aksara: Ketika Rasa Bersua

Ketika Rasa Bersua Oleh: Adhelia Putri Chandra P.       Beberapa kali kerap kita bicara mengenai rasa yang entah sejak kapan memenuhi rongga dada. Beberapa kali pula kerap kau berbincang mengenai apa-apa yang seharusnya kupanjatkan dalam doa. Dan, beberapa kali itulah harapan-harapan untuk bersamamu tumbuh. Bahkan, pada tengah malam, saat di mana mata-mata mereka terpejam, aku masih saja terjaga sembari sesekali berdiskusi dengan Tuhanku ─ membicarakanmu. Padahal, sebelumnya kau sudah berkata, “Tidak ada rasa apa pun yang kusimpan untukmu.” “Ah, semesta memang pelik!” Begitulah ucapku setiap kali aku mengingat namamu, membayang senyummu, pun merindumu. Seperti malam ini. Sepi yang menyapa kembali membawaku pada angan-angan mengenaimu. Sesekali aku mengingat bagaimana dekatnya kita beberapa tempo lalu. Eh, tunggu. Kita yang dekat atau hanya aku yang menganggap kita dekat? Ah, entahlah. Aku tak mengerti. Namun, yang jelas aku ingat, malam itu kau berkata, “Berdoa saja...